Omdysolution
-----------------------------
Rabu, 12 Desember 2007
10. Sepucuk Surat Cinta
10. Sepucuk Surat Cinta



Ini malam Sabtu. Besok pagi aku harus pergi. Memasukkan proposal tesis
ke kampus. Menemui Alicia dan Aisha di National Library. Dan mengirimkan
naskah terjemahan ke redaksi sebuah penerbit di Jakarta melalui email. Perjalanan
yang agak melelahkan kelihatannya. Semua telah siap, kecuali naskah terjemahan.
Belum selesai di edit. Aku ingin besok pagi semuanya berjalan seperti rencana.
Sekali melakukan perjalanan banyak yang diselesaikan. Malam ini mau tidak mau
aku harus sedikit keras pada diriku sendiri. Aku harus kerja lembut mengedit hasil
terjemahanku sampai benar-benar matang.

Untuk persiapan lembur ini, aku telah menyiapkan dopping andalan. Madu
murni, susu kambing murni yang dibelikan oleh Hamdi dari para penggembala
kambing yang biasa lewat di Wadi Hof, dan telur ayam kampung. Agar suasana
segar aku membuka jendela dan pintu kamar terbuka lebar-lebar. Pelan-pelan
kusetel nasyid Athfal Filistin. Semangat bocah-bocah cilik Palestina yang
membara dengan celoteh mereka yang menggemaskan menyanyikan lagu-lagu
perjuangan dan intifadhah membuat diriku bersemangat dan tidak mengantuk.
Aku sudah minta izin teman-teman untuk membunyikan nasyid ini sampai tengah
malam. Aku minta mereka menutup pintu kamar masing-masing agar tidak
terganggu tidurnya.

Ternyata mereka malah asyik meminjam film Ashabul Kahfi dari seorang
teman di Nasr City. Dan menontonnya di kamar Rudi. Mereka memerlukan waktu
16 jam untuk menonton film yang dibuat Iran dan Lebanon itu. Sebab film
Ashabul Kahfi adalah film yang diputar bersambung oleh stasiun TV Lebanon
selama bulan Ramadhan tahun kemarin. Hanya yang memiliki parabola yang bisa
menontonnya. Malam ini mereka menyediakan waktu khusus untuk menontonnya.
Aku belum pernah menontonnya, sebetulnya sangat ingin. Tapi apakah semua
keinginan harus dipenuhi? Komentar teman-teman yang sudah menontonnya, film
Ashabul Kahfi luar biasa indahnya, mampu menambah keimanan dan
memperhalus jiwa. Lain kali semoga ada kesempatan menontonnya. Malam ini
adalah malam kerja.


Malam ini, sementara teman-teman terbang ke zaman Ashabul Kahfi,
mereka berdialog dengan pemuda-pemuda pilihan itu, aku malah berlayar di
lautan kata-kata yang disusun Ibnu Qayyim. Aku harus membaca dengan teliti dan
mengedit tulisan sebanyak 357 halaman. Tengah malam aku kelelahan. Aku
istirahat dengan melakukan shalat. Ketika sujud kepala terasa enak. Darah
mengalir ke kepala. Syaraf-syarafnya menjadi lebih segar. Kudengar teman-teman
bertasbih atas apa yang mereka lihat di film itu. Aku melemaskan otot-otot
dengan menelentangkan badan di atas kasur. Menarik nafas dalam-dalam dan
mengeluarkannya pelan-pelan. Aku bangkit hendak meneruskan pekerjaan. Tak
sengaja aku melihat sepucuk surat permintaan mengisi pelatihan terjemah dari
sebuah kelompok studi. Aku jadi teringat dengan sepucuk surat dari Noura yang
masih berada di saku baju koko yang tergantung di dalam almari. Aku belum
membacanya. Segera kuambil surat itu dan kubaca.



Kepada

Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa

dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia



Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni
surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi.
Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga
Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam
penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam
segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk
mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat
kau baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil
mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,


Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian
tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang
pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau
telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata
untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa
bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa
bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak
hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. Karena
orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah
dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam
relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki
siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka dan
menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita.
Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria menghibur
dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril
menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian.
Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku
ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku
yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia
menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat turun
malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang
ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui
sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak
mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada
Maria: ‘Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. Aku menangis jika ada
perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya
tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang


jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau.” Dia
menjawab: “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa.” Kemudian
dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan, “Kumohon, demi
rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu Maria turun dan kau mengawasi dari jendela.
Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua
kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku
cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan
kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu
aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku
tidak sendirian di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air
mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi
dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang
shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi
puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan
menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika
ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan
serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua.
Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di
dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku
sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh
makhluk dhaif seperti diriku.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu.
Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu
yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu.
Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya
dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak
pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu. Aku


merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan,
makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah
meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku
merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang
sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan
kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman
di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam,
tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan
diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,

Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di
dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu
kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih
sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa
cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata-
kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada yang bernuansa dosa
semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus terbakar
oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku
jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau
jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.

Wassalamu’alaikum,

Yang dirundung nestapa,

Noura

Tak terasa mataku basah. Bukan karena inilah untuk pertama kalinya aku
menerima surat cinta yang menyala dari seorang gadis. Bukan karena kata-kata
Noura yang mengutarakan apa dirasakannya terhadapku. Aku menangis karena
betapa selama ini Noura menderita tekanan batin yang luar biasa. Ia sangat
ketakutan, merasa tidak memiliki tempat yang aman. Ia merasa berada dalam
kegelapan yang berkepanjangan. Tanpa cahaya cinta dan kasih dari keluarganya.
Ia merasa tidak ada yang peduli padanya. Ia telah kehilangan kepercayaan dirinya
sebagai manusia merdeka tanpa belenggu nestapa. Sesungguhnya tekanan psikis


yang menderanya selama ini lebih berat dari siksaan fisik yang ia terima. Maka
ketika ada sedikit saja cahaya yang masuk ke dalam hatinya, ada rasa simpati
yang diberikan orang lain kepadanya, ia merasa cahaya dan rasa simpati itu adalah
segalanya baginya. Ia langsung memegangnya erat-erat dan tidak mau kehilangan
cahaya itu, tidak mau kehilangan simpati itu dan ia sangat percaya dan
menemukan hidupnya pada diri orang yang ia rasa telah memberikan cahaya dan
rasa simpati.

Aku menyeka air mata kulipat kertas surat itu dan kumasukkan ke dalam
amplopnya. Setelah shalat shubuh aku harus menyampaikan hal ini pada Syaikh
Ahmad. Gadis itu perlu terus diberi semangat hidup dan dikokohkan ruhaninya.
Gadis itu perlu diyakinkan bahwa dia akan mendapatkan rasa aman dan kasih
sayang selama berada di tengah-tengah orang yang beriman. Aku mengambil air
wudhu untuk menenangkan hati dan pikiran. Aku harus kembali menyelesaikan
pekerjaan. Ketika azan shubuh berkumandang seluruh terjemahan telah selesai
aku edit. Langsung kupecah menjadi empat file. Kumasukkan ke dalam disket.
Mataku terasa berat dan perih. Seperti ada kerikil mengganjal di sana. Aku belum
memicingkan mata sama sekali. Aku bangkit kuajak teman-teman untuk turun ke
masjid.