Omdysolution
-----------------------------
Rabu, 12 Desember 2007
13. Ketika Hati Berdesir-desir
13. Ketika Hati Berdesir-desir



Tak terasa sudah memasuki pertengahan September. Suhu musim panas
mulai turun. Paling tinggi 32 derajat celcius. Bulan Oktober nanti adalah bulan
peralihan dari musim panas ke musim dingin. Si Musthafa Fathullah Said, teman
Mesir satu kelas di pascasarjana yang juga sedang mengajukan proposal tesis
memberitahukan, bahwa dua hari lagi aku harus ke kampus untuk ujian proposal
tesis yang kuajukan. Aku terfokus pada ujian yang sangat menentukan itu. Jika
proposalku ditolak maka aku harus menunggu setengah tahun lagi untuk
mengajukan proposal baru.

As you sow, so will you reap! Demikian pepatah Inggris mengatakan.
Seperti apa yang anda tanam, sebegitu itulah yang akan anda petik. Rasanya tidak
sia-sia apa yang telah kukerjakan selama ini. Membuat jadwal ketat, bolak-balik
ke National Library, ke perpustakaan IIIT di Zamalek, dan mengumpulkan bahan.
Membaca literatur-literatur klasik berkaitan Ilmu Quran, berdiskusi dengan
teman-teman pascasarjana. Kerja yang melelahkan. Mengantuk. Pusing. Mual.
Kurang tidur. Semuanya terasa bagaikan simponi hidup yang indah setelah tim
penilai yang terdiri para guru besar menerima proposal tesis yang aku ajukan. Aku
jadi menulis tentang ‘Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi’.
Aku memang pengagum ulama terbesar Turki abad 20 itu. Dia termasuk tokoh
dunia Islam yang menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi layak disebut mujaddid
umat Islam abad 20 disamping Hasan Al Banna. Pembimbingku juga telah
ditentukan yaitu Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far. Aku seperti mendapat
durian runtuh sebab beliau memang profesor idolaku. Terkenal paling mudah
ditemui dan paling senang dengan mahasiswa dari Asia Tenggara. Aku belum
dikenal oleh beliau, tapi aku akan berusaha menjadi muridnya yang baik sehingga
beliau akan mengenalku dengan baik sebagaimana Syaikh Utsman mengenalku.

Dan sebagai rasa syukur aku harus kembali memeras otak dan bekerja
keras untuk menyelesaikan tesis ini. Pekerjaan yang tidak ringan, sebab aku juga
harus menerjemah. Tanpa menerjemah dari mana sumber penghidupan akan aku
dapatkan. Aku kembali menata peta hidup dua tahun ke depan. Aku teliti dan aku
kalkulasi dengan seksama. Target-target dan cara pencapaiannya. Ada satu target


yang masih mengganjal. Yaitu menikah. Aku mentargetkan saat menulis tesis aku
harus menikah. Umurku sudah 26 tahun menginjak 27.

Aku mengkalkulasi kemampuan mencari dana setiap bulan. Sebelum
menulis tesis aku sanggup merampungkan buku setebal 200-300 halaman setiap
bulan. Itu berarti aku akan mendapat masukan sekitar 250 dollar perbulan. Dan
aku hanya bisa menyisakan 100 dollar dan terkadang malah cuma 50 dollar.
Setiap kali masuk toko buku aku tidak bisa menahan diri untuk membeli buku
atau kitab. Ketika konsentrasiku terpusat pada menulis tesis maka kemampuanku
menerjemah akan berkurang. Mungkin aku hanya akan mampu menerjemah 150-
200 halaman saja perbulan. Uang yang aku terima dari bayaran menerjemah
hanya cukup untuk memenuhi biaya sehari-hari. Bagaimana? Apakah akan tetap
nekad menikah?

Tunggu dulu! Bang Aziz yang mengais nafkah dengan membuat tempe
dan mendistribusikannya ke rumah-rumah mahasiswa itu berani menikah. Bang
Aziz bercerita dengan pemasukan 150 dollar perbulan sudah berani menikah.
Hidup sederhana dan menyewa rumah sederhana di kawasan Hayyu Thamin, atau
jauh di Zahra sana. Apalagi jika mencari isteri mahasiswi yang kebetulan dapat
beasiswa. Meskipun beasiswa tak seberapa tapi sangat membantu karena
datangnya tetap.

Akhirnya kupikir dengan matang, bahwa umur tidak bisa dihargai dengan
materi. Jika menemukan perempuan shalihah dan mau menerima diriku seutuhnya
dan siap hidup berjuang bersama, dalam suka dan duka, maka aku tidak akan
menyia-nyiakan kesempatan untuk menyempurnakan separo agama. Kutetapkan
tahun ini bisa menikah, tapi tidak mencari. Lho bagaimana? Siapa tahu ada yang
menawari. Kalau sampai selesai magister tidak ada yang menawari ya berarti
memang nasibku tidak menikah di Cairo dengan mahasiswi Al Azhar. Mungkin
nasibku adalah menikah di Indonesia, dengan seorang akhwat berjilbab yang
ghirah keislamannya bagus, yang ada di UI, atau di UGM, atau di UNDIP, atau di
UNS. Atau malah gadis dari pesantren yang masih sangat virgin. Atau, tak
tahunya anak tetangga sendiri, teman gebyuran di sungai waktu kecil. Jadi tidak
asing lagi, sejak kecil sudah sama-sama tahu.


Aku jadi teringat puisiku sendiri, yang kutulis jelek sekali di buku harian
suatu malam di musim semi setahun yang lalu:

Bidadariku,

Namamu tak terukir

Dalam catatan harianku

Asal usulmu tak hadir

Dalam diskusi kehidupanku

Wajah wujudmu tak terlukis

Dalam sketsa mimpi-mimpiku

Indah suaramu tak terekam

Dalam pita batinku

Namun kau hidup mengaliri

Pori-pori cinta dan semangatku

Sebab

Kau adalah hadiah agung

Dari Tuhan

Untukku

Bidadariku

Seorang perempuan shalihah yang akan jadi bidadariku, yang akan aku
cintai sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang akan aku harapkan jadi teman
perjuangan merenda masa depan, dan menapaki jalan Ilahi, itu siapa? Aku tak
tahu. Ia masih berada dalam alam ghaib yang belum dibukakan oleh Tuhan
untukku. Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu
akan datang.

* * *

Di layar TV Channel 2 ada pengumuman nama-nama orang hilang,
lengkap dengan data singkat, ciri-ciri dan fotonya. Nama yang terakhir di
tampilkan adalah Noura binti Bahadur Gonzouri, lengkap dengan fotonya. Saat itu
pukul setengah sepuluh malam. Kami satu rumah kaget.

Si Muka Dingin Bahadur rupanya masih mencari Noura untuk ia jual
kepada serigala-serigala berwajah manusia. Kami satu rumah cemas jika
urusannya akan sampai kepada polisi dan menyeret Syaikh Ahmad. Jika Si Muka


Dingin Bahadur punya hubungan dengan seorang pembesar di bagian intelijen
keamanan negara urusannya benar-benar bisa merepotkan. Saat itu juga aku
menelpon Syaikh Ahmad. Beliau minta aku tenang saja dan tidak usah kuatir.
Noura sedang berada di pintu gerbang kemerdekaan dan kebahagiaannya. Besok
pagi setelah shalat shubuh beliau akan menjelaskan semuanya.

Usai shalat shubuh, Syaikh Ahmad menjelaskan kepadaku bahwa masalah
Noura sedang ditangani diam-diam oleh Ridha Shahata, saudara sepupunya yang
bertugas di bagian intelijen keamanan negara. Ridha Shahata menemukan
informasi berharga bahwa Noura dilahirkan di sebuah rumah sakit elite di
kawasan elite Heliopolis. Pada minggu yang sama Noura dilahirkan hanya ada
lima bayi. Dan pada hari yang sama Noura lahir cuma ada dua bayi di sana. Yaitu
dia dan bayi satunya bernama Nadia. Setelah dilacak. Nadia kini tinggal di
Heliopolis, ayah dan ibunya dosen di Universitas Ains Syams. Yang sedikit aneh
Nadia berkulit hitam sementara ayah dan ibunya berkulit putih. Kolonel Ridha
Shahata sedang menyiapkan surat pemanggilan untuk tes DNA pada Si Muka
Dingin Bahadur dan isterinya. Juga pada Nadia dan kedua orang tuanya. Sebab
memang sangat mencurigakan dua bayi itu tertukar. Jika benar tertukar nanti akan
dicari siapa saja perawat yang bertugas waktu itu. Tertukarnya sengaja atau tidak.
Tes DNA itulah yang akan jadi bukti kuat kejelasan kasus Noura. Namun
seandainya tidak terbukti ada pertukaran bayi, Noura akan tetap dilindungi.
Kolonel Ridha Shahata juga telah menyiapkan bukti untuk menyeret Si Muka
Dingin Bahadur ke penjara. Kolonel Ridha Shahata adalah intelijen yang sangat
profesional, dia pernah menangkap seorang turis Spanyol yang ternyata adalah
mata-mata Mossad.

Syaikh Ahmad meminta saya tenang. Wa man yattaqillaha yaj’al lahu
makhraja. Siapa yang bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan
untuknya jalan keluar. Aku lega.

Begitu sampai dirumah, aku mendapat telpon dari Nurul. Ia rupanya juga
melihat tayangan nama orang hilang tadi malam. Ia cemas kalau Noura tertangkap
dan urusannya melebar. Aku lalu menjelaskan apa yang dijelaskan Syaikh Ahmad
kepadaku. Nurul merasa lega. Sebelum mengakhiri pembicaraannya dia bertanya
apakah aku sudah ke tempatnya Ustadz Jalal. Kubilang sejak sakit aku belum ke


mana-mana. Aku minta pada Nurul agar menyampaikan pada Ustadz Jalal
permohonan maafku belum bisa ke sana. Dan aku titip pesan seandainya beliau
ada waktu supaya menghubungi aku langsung. Biar aku tahu sebenarnya beliau
mau minta tolong apa. Aku juga menjelaskan pada Nurul saat ini sudah
konsentrasi menulis tesis. Alhamdulillah judul tesisnya sudah diterima. Nurul
menyatakan rasa gembira dan senangnya.

* * *

Aku teringat ini hari Ahad. Sudah lama aku tidak tidak mengaji pada
Syaikh Utsman. Aku benar-benar rindu pada beliau. Ramalan cuaca siang ini
Cairo tidak terlalu panas. Hanya 30 derajat celcius. Aku berangkat setengah
sebelas. Aku ingin shalat zhuhur di Shubra. Baru keluar sampai di halaman
apartemen, aku dicegah oleh Maria dari atas, dari jendelanya. Dia minta agar aku
tidak pergi dulu, di rumah dulu. Aku heran apa haknya melarang aku. Aku
jelaskan padanya aku harus belajar qiraah sab’ah. Akhirnya dia menyuruh
adiknya, Si Yousef untuk mengantar aku ke tempat aku ngaji. Aku merasa heran
dengan diri sendiri, keluarga Tuan Boutros begitu baik dan besar perhatiannya
kepada kami. Hari itu Yousef mengantar aku sampai di depan masjid Abu Bakar
Shiddiq, Shubra. Ia juga berjanji akan menjemputku pukul setengah lima sore.
Aku mengucapkan terima kasih padanya.

Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh
kehangatan. Kami mempraktekkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat
Al Mujaadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Ash Shaf dan Al Jumu’ah. Selesai
mengaji Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus
disedikan oleh takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.

“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.

“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala, aku tidak
berani memandang beliau. Segan.

“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”

“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima Syaikh. Sekarang
sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”

“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”

“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”


“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus dikaji
kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa pembimbingmu?”

“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”

“Yang tinggal di dekat masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City itu?”

“Benar Syaikh.”

“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan
kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama.
Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon
beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benar-
benar menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.” Suara
Syaikh Utsman bernada optimis dan bahagia. Diam-diam aku sangat kagum pada
beliau yang sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau
mengambil murid terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi
perhatian yang luar biasa.

“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau mau
menikah?”

Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar gendang
telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat. Jika yang bertanya orang semacam
Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku bisa
menjawabnya dengan guyon. Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka,
gurunya para guru besar di Mesir.

“Maksud Syaikh bagaimana?”

“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau, kebetulan
ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah yang
baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannnya
itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”

Keringat dinginku keluar.

“Tapi aku mahasiswa miskin Syaikh, tidak punya biaya.”

“Baginda nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina Ali bin Abi
Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam keadaan
miskin. Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat
istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah, dia mencari pemuda yang


shalih bukan pemuda yang kaya. Sekarang pulanglah, pikirlah dengan matang.
Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak secepatnya datanglah
kau menemuiku. Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan kau dengan
walinya dahulu, jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.” Kata-kata
Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam jiwaku.

Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan sakral yang
diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir. Apa yang beliau tawarkan
bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah sebaik-baik rizki bagi
seorang pemuda. Adakah rizki lebih agung dari seorang gadis shalihah yang jika
dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda? Aku belum bisa
mempercayai apa yang aku alami hari ini. Baru saja target dan peta hidup dibuat,
tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat. Siap. Atau tidak. Aku harus
minta penerang dari Allah Swt.


87 Dari penggambungan dua petikan sajak Fatin Hamama berjudul ‘Aku ingin ibu’ dan ‘Ibu
(3)’ yang terdapat dalam kumpulan puisinya “Papyrus”.