Omdysolution
-----------------------------
Rabu, 12 Desember 2007
19. Rencana-rencana
19. Rencana-rencana



“Aisha, berapa hari kita akan tinggal di flat mewah ini, dan setelah itu kita
akan tinggal di mana?” tanyaku pada Aisha setelah shalat Dhuha. Dia belum
memberi tahu rumah yang disewa untuk hidup berdua.

“Menurutmu, flat di pinggir Nil seperti ini nyaman apa tidak?” Aisha
malah balik bertanya.

“Nyaman.”

“Aman tidak?

“Aman.”

“Kondusif tidak untuk belajar, menulis atau menerjemah?”

“Sangat kondusif.”

“Kalau begitu aku ingin tinggal di flat ini selama ada di Cairo, Sayang.”

Mendengar jawaban Aisha itu aku bagaikan disambar geledek. Kaget
bukan main. Dari mana aku akan mendapatkan biaya untuk menyewa flat yang
sangat mewah ini. Meskipun aku baru melihat ruang tamu, kamar utama, balkon
dapur dan kamar mandi dan belum melihat kamar-kamar yang lain tapi flat ini
sangat mewah. Kamar utamanya saja yang kini jadi kamar pengantin tak kalah
mewahnya dengan kamar Sheraton Hotel yang pernah kulihat saat menemui
seorang anggota DPR yang sedang melakukan lawatan di Cairo. Ruang tamunya
lebih mewah dari ruang tamu rumah Bapak Atdikbud. Berapa sewanya perbulan?
Rumah Pak Atdikbud saja yang letaknya di Dokki harga sewanya katanta tak
kurang dari enam ribu pound perbulan. Dan flat mewah ini yang terletak di
pinggir sungai Nil bisa tiga kali lipat mahalnya. Delapan belas ribu pound atau
sekitar lima ribu dollar perbulan. Bahkan bisa lebih. Itu adalah honor menerjemah
mati-matian selama dua tahun full. Tiba-tiba aku merasa sangat malang. Aku
tidak mungkin bisa memenuhi permintaan Aisha. Aku sangat sedih. Air mataku
meleleh.

“Kenapa kau menangis Sayang?”

Aku menjelaskan semuanya pada Aisha yang bergolak dalam hatiku. Aku
sangat mencintainya. Tapi aku tidak akan mampu menuruti keinginannya.


Kujelaskan kembali siapa diriku dan sebatas mana kemampuanku. Aisha malah
menangis.

“Suamiku, alangkah celakanya aku kalau sampai aku membuatmu sedih.
Kalau sampai aku meminta sesuatu yang di luar kemampuanmu. Alangkah
celakanya diriku. Suamiku, kita akan tinggal di sini tanpa mengeluarkan biaya
sepeser pun kecuali biaya listrik, gas, air, keamanan, dan kebersihan. Hanya itu
yang akan kita keluarkan perbulan. Tidak lebih?”

“Maksudmu kita tinggal di sini gratis?”

Aisha menganggguk.

“Aku tak bisa kita tinggal atas belas kasih orang lain Aisha.”

“Apakah bagimu aku orang lain suamiku?”

“Jadi kau yang membayar sewanya Aisha. Tidak bisa Aisha, itu akan
sangat menyiksa diriku?”

“Bukan aku yang membayarnya suamiku.”

“Lantas siapa?”

“Tak ada yang membayarnya.”

“Itu namanya gratis, dan aku tidak mau kita tinggal di rumah orang lain
gratis.”

“Meskipun rumah itu rumah milik isterimu, dan isterimu adalah
milikmu?”

“Apa maksudmu Aisha, aku jadi bingung.”

Aisha bangkit dari sajadah dan menarik lenganku. Dia membawaku
memasuki kamar di samping kamar utama. Lihatlah isi kamar ini. Ini adalah
perpustakaan dan ruang kerjamu. Aku melihat kamar dengan kitab-kitab dan
buku-buku yang tersusun rapi. Kitab-kitab itu aku mengenalnya. Itu kitab-kitabku.
Juga ada komputer di dekat jendela. Itu komputer bututku. Aku mendekati
jendela, menyibak gordennya dan melongok. Panorama sungai Nil di waktu dhuha
sangat indahnya.

“Di sinilah insya Allah kau akan menulis tesismu, menerjemah dan
menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi umat. Dan aku akan
menjadi pendampingmu siang malam. Suamiku, flat ini dibeli oleh ibuku dua
tahun sebelum beliau meninggal. Ketika beliau diminta mengajar di Fakultas


Kedokteran Cairo University selama tiga semester. Waktu itu aku baru berumur
sebelas tahun. Selama enam bulan kami tinggal di rumah ini. Dan kamar yang kita
jadikan perpustakaan ini adalah kamar tidurku waktu itu. Setelah kami kembali ke
Jerman, rumah ini disewakan kepada home staff Kedutaan Jerman. Yang terakhir
menyewa adalah Mr. Edward Minnich, Atase Perdagangan. Apartemen ini
memang dihuni oleh orang-orang penting. Tepat di bawah kita adalah pejabat
kedutaan Argentina. Di atas kita sutradara terkemuka Mesir. Di samping kita, flat
nomor 20, pemilik Wadi Nile Travel.”

Aku baru mengerti. Dan aku tidak tahu apa yang kurasakan dalam hati.
Bagaimana gegernya teman-teman mahasiswa nanti mengetahui di mana aku
tinggal.

“Berapa harga sewa flat ini, Sayang?”

“Mr. Minnich menyewa dengan harga sembilan ribu dollar perbulan.”

“Ha? Sembilan ribu dollar perbulan?” Aku kaget mendengar angka
nominal itu.

“Ya. Sembilan ribu dollar perbulan. Dan itu termasuk murah. Sebab
pasaran harganya semestinya sepuluh ribu dollar ke atas. Ini karena kami sama-
sama dari Jerman jadi sedikit di bawah standar.”

“Aisha, isteriku yang kucintai, harga sewa flat ini begitu tinggi. Apa tidak
sebaiknya kita sewakan saja. Lalu kita menyewa flat di Nasr City yang lebih
murah. Dengan seribu dollar saja, kita sudah bisa menyewa flat yang tak kalah
mewahnya di kawasan Abbas El-Akkad. Hanya saja di sana kita tidak bisa
melihat panorama sungai Nil. Tapi kenyamanan dan ketenangannya tak jauh
berbeda. Sisanya bisa kita gunakan untuk bermacam amal di jalan Allah,” ucapku
sambil memandang ke arah sungai Nil. Kurasakan Aisha memelukku dari
belakang. Dagunya ia letakkan di pundakku. Tingginya memang hampir sama
denganku. Aku hanya lebih tinggi tiga senti darinya.

“Sudah kuduga. Kau akan mengatakan demikian. Suamiku, seandainya
bukan ibuku yang membeli flat ini dan seandainya tidak ada kenangan yang indah
dalam flat ini, tentu sebelum kau sarankan aku sudah melakukannya. Aku sangat
mencintai ibu dan setelah rumah di Jerman itu, flat ini adalah tempat kedua yang
paling indah dalam kenanganku bersama ibu. Aku ingin kita berdua tinggal di sini


selama di Cairo. Dan flat ini milik kita, kita lebih tenang daripada menyewa. Kau
tahu sifat orang Mesir ‘kan? Tidak semuanya baik. Tidak semua tuan rumah baik.
Aku tidak mau membuang energi dan ketenangan karena masalah sepele dengan
tuan rumah yang tidak baik. Kau tahu teman paman Eqbal ada yang diusir tuan
rumahnya tengah malam musim dingin, tanpa sebab yang jelas. Aku tak mau itu
terjadi pada kita. Kalau kita menemukan tuan rumah yang baik alhamdulillah,
kalau kebetulan menemukan tuan rumah yang suka rewel, tentu sangat tidak enak.
Tapi kau adalah imamku, suamiku. Jika kau tetap memutuskan tidak tinggal di flat
ini aku akan menurutimu. Kaulah yang harus memutuskan apa yang menurutmu
terbaik untuk hidup kita berdua, dan untuk anak-anak kita seandainya kita punya
anak. Sebagai isteri aku telah memberikan masukan. Aku yakin kau akan
memutuskan yang terbaik.” Aisha lalu memelukku erat-erat.

“Nanti kita istikharah,” jawabku lirih.

Aisha lalu membawaku melihat-lihat seluruh sisi rumah. Sebuah rumah
yang mewah dan sangat nyaman untuk tempat tinggal. Ruang tamu yang luas
dengan shofa khusus didatangkan dari Perancis. Dua balkon. Ruang santai. Satu
kamar utama dengan kamar mandi di dalamnya. Dua kamar mandi, di dekat ruang
tamu dan dekat dapur. Dan tiga kamar ukuran sedang. Yang satu telah disulap
Aisha menjadi ruang kerja dan perpustakaan. Kamar paling dekat dengan ruang
tamu telah dipersiapkan oleh Aisha seandainya ada keluarga, atau teman yang
ingin menginap. Aisha lalu kembali mengajakku ke perpustakaan dan mengajakku
duduk di lantai yang dialasi karpet tebal. Ia duduk bersila di hadapanku.

“Suamiku, kita ini satu jiwa. Kau adalah aku. Dan aku adalah kau. Kita
akan mengarungi kehidupan ini bersama. Dukamu dukaku. Dukaku dukamu.
Sukamu sukaku. Sukaku sukamu. Cita-citamu cita-citaku. Cita-citaku cita-citamu.
Senangmu senangku. Senangku senangmu. Bencimu benciku. Benciku bencimu.
Kurangmu kurangku. Kurangku kurangmu. Kelebihanmu kelebihanku.
Kelebihanku kelebihanmu. Milikmu milikku. Milikku milikmu. Hidupmu
hidupku. Hidupku hidupmu.”

Hatiku sangat tersentuh dan terharu mendengar perkataannya itu.

“Suamiku, padaku ada dua ATM. Mohon Kau pilihlah satu!” Aisha
meletakkan dua kartu ATM di depanku. Aku ragu.


“Suamiku, kalau kau mencintaiku, benar-benar mencintaiku dan
memandang diriku adalah milikmu maka ambillah jangan ragu!”

Aku tak bisa tahan menatap sorot matanya yang teduh. Dengan
mengucapkan basmalah dalam hati aku mengambil yang paling dekat.

“Terima kasih Suamiku, kau tidak menganggap diriku orang lain. Aku
akan menjelas semua hal berkaitan dengan ATM itu dan apa yang aku miliki saat
ini. Aku ingin kau yang mengaturnya sepenuhnya. Sebab kau adalah imamku dan
aku sangat percaya padamu. Suamiku, ATM yang kau pilih sekarang berisi dana 3
juta empat ratus tiga puluh ribu dollar!”

Aku tersentak mendengarnya.

“Itu adalah rizki yang diberikan Allah kepada kita melalui perusahaan
keluarga di Turki. Ceritanya begini. Kakekku, Ali Faroughi, atas kemurahan Allah
adalah bisnisman berhasil yang memiliki tiga perusahaan. Yaitu perusahaan
tekstil, travel, dan susu. Sebelum meninggal beliau memanggil tiga anaknya yaitu
ibuku, paman Akbar, dan bibi Sarah. Beliau membagi dan menyuruh masing-
masing memilih perusahaan mana yang disukai. Beliau menyuruh yang paling
muda yaitu bibi Sarah untuk memilih lebih dulu. Bibi Sarah memilih perusahaan
susu karena dia paling suka minum susu. Lalu paman Akbar memilih travel
karena dia orang yang hobinya melancong. Dan ibu dengan sendirinya mendapat
jatah perusahaan tekstil.

Kakek orang yang bijaksana dan berpandangan jauh ke depan. Beliau
tidak memberikan masing-masing perusahaan itu secara individual penuh. Beliau
ingin ketiga anaknya dan keturunannya masih erat rasa persaudaraan dan saling
memilikinya. Maka beliau memberikan dengan sistem kepemilikan saham. Pabrik
Susu beliau berikan kepada bibi Sarah dengan kepemilikan saham sebesar 60
persen. Selebihnya paman Akbar diberi jatah kepemilikan saham 20 persen, juga
ibu. Begitu juga travel, 60 persen milik paman Akbar, yang 40 persen milik ibu
dan bibi. Juga perusahaan tekstil 60 persen milik ibu yang 40 persen milik paman
dan bibi. Tujuan kakek mengatur seperti itu adalah agar semuanya tetap masih
merasa saling memiliki. Juga biar rasa solidaritasnya tetap ada. Kakek berharap
semua anaknya akan tetap hidup layak. Seandainya ada salah satu perusahaan


yang bangkrut atau gulung tikar maka pemiliknya masih memiliki masukan dari
dua perusahaan lain.

Sekarang semua perusahaan dibawah kontrol paman Akbar. Beliau sosok
yang berbakat dan profesional seperti kakek. Setiap bulan laba bersih perusahaan
diaudit. Maksudnya bersih memang benar-benar bersih setelah dipotong zakat dan
pajak. Sepuluh persennya diberikan kepada para pemilik saham. Dan sembilan
puluh persennya dikembalikan ke perusahaan untuk diputar lagi. Sepuluh persen
dari laba perusahaan itu dibagikan pada pemilik saham sesuai dengan besarnya
saham yang dia miliki. Bulan lalu dari pabrik tekstil masuk nominal sebesar
60.000 dollar. Berarti laba bersih perusahaan bulan itu 1 juta dollar. Sepuluh
persennya 100.000 dollar dibagi tiga. 60 persen untuk diriku sebagai pengganti
ibu, 20 persen paman Akbar dan 20 persen bibi Sarah. Dari perusahaan travel
bulan lalu masuk dana 57 ribu dollar, padahal jatah kita hanya dua puluh persen
dari sepuluh persen laba perusahaan atau dua persen saja dari laba perusahaan.
Dan dari perusahaan susu masuk 78 ribu dollar. Perusahaan travel dan susu
memang sudah sangat maju. Perusahaan travel malah sudah merambah perhotelah
dan perusahaan susu sudah merambah produksi bahan makanan. Rencananya
tahun ini perusahaan tekstik akan mencoba melebarkan sayap dengan mendirikan
anak perusahaan di Malaysia. Jadi bulan lalu masuk dana 195 ribu dollar dari
Turki ke ATM itu. Dan kira-kira tiap bulan akan masuk dana sebesar itu. Bisa
lebih bisa kurang. Bagi orang dunia ketiga, itu jumlah yang sangat besar. Tapi
bagi pemilik perusahaan raksasa di negara-negara maju itu jumlah yang sangat
kecil sekali.

Suamiku, terserah mau kau atur bagaimana ATM yang ada ditanganmu
itu. ATM yang aku pegang ini berisi dana dari aset bisnis di Jerman. Sekarang
telah terisi dana 7 juta dollar. Sistemnya aku buat seperti yang di Turki. Tiap
bulan Cuma sepuluh persen dari laba bersih perusahaan yang masuk ke pemilik
perusahaan. Dan yang ini tidak akan kita otak-atik dulu sampai nanti ketika kita
tinggal di Indonesia. Kita akan menggunakannya sebaik mungkin bersama-sama.
Jadi aku tidak akan mengutik-utik ATM yang ada di tanganku. Lapar kenyangku
adalah atas kebijakanmu. Kaulah yang menjatah dana untuk diriku. Kaulah yang


menentukan besarnya dana belanja tiap bulan. Kalau aku minta sesuatu maka aku
akan minta padamu. Kaulah imamku.”

Mendengar apa yang dituturkan Aisha aku jadi sedih, pucat merinding dan
bergetar. Aku memegang ATM senilai $ 3.430.000,- atau kira-kira sebesar 30
milyar rupiah. Aku merasa gunung Merapi hendak menimpaku.

“Kenapa mukamu jadi berubah warna suamiku? Apakah aku melakukan
sesuatu yang menyinggungmu?” tanya Aisha.

“Tidak Aisha. Aku tiba-tiba memikul beban amanah sedemikian beratnya,
yang tidak pernah aku bayangkan. Dirimu adalah amanah bagiku. Dan apa yang
kau miliki yang kau letakkan di tanganku adalah amanah yang sangat berat
bagiku. Aku tak tahu apakah bisa memikul amanah seberat ini?”

“Aku percaya padamu Suamiku.”

Bahwa aku suatu saat akan menjadi imam bagi isteriku dan kelak anak-
anakku adalah hal yang sudah aku bayangkan. Aku akan jadi suami seorang
muslimah Turki juga telah aku bayangkan setelah bertemu Aisha di rumah Syaikh
Utsman dan aku sudah membayangkan bagaimana suasana rumah tangga nanti.
Sederhana seperti teman-teman Indonesia. Namun aku akan menjadi imam dan
penentu jalan hidup seorang jet set shalihah pemilik perusahaan di Turki dan
Jerman yang mewakafkan diri dan hartanya di jalan Allah tidak pernah
terbayangkan sama sekali.

Aku merasa ilmu, iman dan pengalamanku belum cukup untuk hidup
mendampingi seorang Aisha yang kini aku tahu sebenarnya siapa dia. Aku harus
meminta saran, nasihat dan pertimbangan pada orang-orang yang lebih kuat
jiwanya dan lebih luas cakrawala pandang dan pengalamannya. Aku mengajak
Aisha untuk shalat hajat agar Allah memberikan rahmat, taufik dan belas kasihnya
sehingga semua amanat dapat ditunaikan dengan baik.

Hari itu juga aku menelpon Syaikh Ahmad Taqiyuddin. Aku minta waktu
bertemu beliau aku ingin konsultasi pada beliau secepatnya. Beliau melarang
diriku pergi ke Hadayek Helwan. Beliau dan isterinya yang justru akan
mendatangi kami.

Sore itu selepas ashar beliau datang. Aisha dan Ummu Aiman, isteri
beliau, berbincang di ruang tamu. Sementara beliau kuajak ke perpustakaan, aku


101 Asy Syura: 27.

ceritakan semua masalahku pada beliau terutama masalah amanat yang
dibebankan Aisha.

“Syaikh, aku sangat takut dengan sindiran Allah dalam Al-Qur’an, Dan
jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan
melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-
Nya dengan ukuran.101 Aku takut kalau sampai melampaui batas Syaikh,” ucapku
pada Syaikh Utsman.

“Akhi, yang melampaui batas adalah mereka yang tidak memiliki rasa
takwa dan tidak merasa diawasi oleh Allah. Selama seseorang masih memiliki
rasa takut dan diawasi Allah maka, insya Allah, dia tidak akan sampai melampaui
batas. Masalah menginfakkan harta yang dalam tuntunan Al-Qur’an kau pasti
sudah tahu,” jawab beliau.

Kemudian beliau banyak memberikan nasihat dan saran, terutama yang
berkaitan dengan perjalanan hidup dengan seorang isteri. Bahwa dalam bersuami-
isteri ada selalu ada dua kemauan, watak, sifat yang terkadang berbeda. Seni
mengolah perbedaan menjadi sebuah keharmonisan ibadah itulah yang harus
diperhatikan.

Menurut beliau aku tidak perlu pindah dari flat yang telah aku tempati.
Karena tidak menyewa dan milik Aisha. Ini sekaligus untuk menyenangkan hati
Aisha yang memiliki kenangan indah di flat ini bersama ibunya. Apalagi flat ini
terletak di tempat yang sangat tenang dan kondusif untuk menulis tesis. Tak jauh
dari flat ini ada perpustakaan IIIT. Hanya dengan berjalan kaki sepuluh menit
sudah sampai ke sana. Juga dekat dengan salah satu kampus Universitas Helwan.
Masjid juga dekat. Tinggal bersyukur kepada Allah. Beliau juga meminta
kepadaku untuk terus menggali semua pengalaman hidup yang telah dijalani
Aisha. Agar aku bisa bersikap arif pada Aisha. Beliau meminta kepadaku untuk
mengetahui gaya hidupnya sejak kecil. Beliau meminta agar aku bijaksana tidak
memaksakan Aisha mengikuti gaya dan standar hidupku yang memang sangat
sejak kecil sederhana. Beliau meminta untuk hidup sewajarnya. Zuhud tidak
berarti tidak mau menyentuh sama sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah
Swt, tapi zuhud adalah mempergunakan nikmat itu untuk ibadah. Tidak


102 Al-Israa: 29

selamanya orang yang makan dengan hanya roti kering dan seteguk air lebih baik
dari orang yang makan roti cokelat dan segelas susu. Jika dengan makan roti
cokelat badan menjadi sehat dan segar, ibadah khusyu dan tenang, bisa bekerja
dengan lebih baik dan bersemangat serta merasakan keagungan Allah yang telah
memberikan nikmat tentu lebih baik dengan yang makan roti kering tapi lemas
dan berkeluh kesah saja kerjanya. Tidak selamanya yang berjalan kaki lebih baik
dari yang naik mobil. Jika dengan naik mobil lebih bisa mengefisienkan waktu,
ibadah lebih tenang karena tidak capek dan lebih bisa banyak melakukan kegiatan
yang bermanfaat tentu sangat baik.

“Jangan terlalu pelit dan jangan terlalu boros. Dua kelakuan itu berakibat
penyesalan dan sangat dicela Allah Swt, firman-Nya dalam Al-Qur’an, ‘Dan
jangan kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan kamu
terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.’102

Beliau lalu memberi tahu hal-hal yang sangat disukai oleh seorang isteri.
Beliau menyuruh agar tidak segan-segan mengungkapkan perasaan cinta. Seorang
isteri paling suka dipuja dan dicinta. Juga tidak segan mengajak isteri ke toko
pakaian dan toko perhiasan. Sering-sering minta pendapat, suatu kehormatan bagi
seorang isteri merasa dirinya sangat penting bagi pengambilan keputusan sang
suami. Dari kunjungan Syaikh Ahmad aku banyak mendapatkan banyak sekali
pelajaran kehidupan yang berarti. Aku merasa lebih siap dengan hidup yang
sedang aku jalani. Ada kata-kata beliau yang sangat menyentuh diriku,

“Aku pernah mengalami hal yang sama dengan dirimu. Ummu Aiman
adalah puteri tunggal konglomerat di Maadi. Ia menyerahkan kekayaannya
sepenuhnya di tanganku. Aku dulu juga bingung, aku pergi ke tempat seorang
ulama dan beliau memberikan nasihat seperti apa yang aku nasihatkan padamu.
Ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Banyak lelaki yang menjadi kerdil
setelah memiliki isteri yang cantik dan kaya raya. Semangat juang dan kerja
kerasnya luntur. Tapi kita mempunyai teladan yang mulia yaitu Rasulullah
Saw. Isteri beliau, Sayyeda Khadijah, adalah konglomerat Makkah pada
zamannya, dan itu tidak membuat beliau kerdil tapi justeru sebaliknya dengan


103 Risalah Kerinduan

kekayaan isterinya itu beliau menegakkan agama Allah. Maka kau tidak boleh
kerdil. Kau harus terus bekerja, menerjemah dan berkarya lebih keras!”

Malamnya aku ajak Aisha berbincang-bincang di perpustakaan sambil
mendengarkan dendangan nasyid Rasailul Asywaq103 yang indah dibawakan
anak-anak Mesir. Kami duduk di lantai beralas karpet. Aku bentangkan dua kertas
karton berisi rancangan peta hidup yang telah aku buat beberapa bulan yang lalu
sebelum menikah. Peta hidup sepuluh tahun ke depan. Dan rancangan satu tahun.
Tentunya peta hidup itu harus dirubah. Melihat apa yang aku gelar mata Aisha
terbelalak.

“Subhanallah! Bagaimana mungkin kita memiliki kebiasaan yang sama.
Ibuku sejak kecil telah mengajarkan hal seperti ini padaku. Dan aku juga memiliki
peta dan rancangan seperti ini. Rancangan peta hidup sepuluh tahun ke depan.
Rancangan kegiatan tahunan, bulanan, mingguan, dan harian. Tunggu sebentar ya
Sayang!” Aisha beranjak menuju kamar utama. Lalu kembali dengan membawa
agenda biru.

“Ini telah peta hidupku sepuluh tahun ke depan. Memang kita harus
membuat peta hidup bersama,” kata Aisha gembira.

Kami pun lalu merancang bersama. Dalam rancangan Aisha, awal April
kembali ke Munchen untuk menyelesaikan S1. Lalu S2 di Sorbonne University
dan S3 di Bonn University. Sementara aku masih harus menulis tesis, kalau lancar
baru dua tahun lagi selesai dan langsung S3 di Al Azhar. Harus ada kompromi-
kompromi. Jika Aisha transfer S1 ke Mesir, bukan tidak mungkin tapi sangat
susah. Proses administrasi universitas-universitas Mesir sangat melelahkan. Jika
aku ikut ke Jerman juga bukan tidak mungkin, tapi susah, target selesai master
dua tahun lagi bisa molor. Di Jerman tidak ada bahan yang cukup untuk menulis
tesis disiplin ilmu tafsir. Harus ada jalan keluar.

Akhirnya kami sepakat melakukan kompromi. Jalan tengahnya adalah
Turki. Di Turki semua target bisa dikejar. Rencananya bulan April tahun depan
berangkat ke sana. Aisha bisa transfer S1 ke Istanbul University. Prosesnya
mudah. Aisha bahkan tidak perlu repot mengurus sendiri. Ia bisa minta tolong
seorang temannya di Munchen untuk mengurus berkasnya yang mengirimnya ke


alamat pamannya di Istanbul. Jadi Aisha bisa tetap selesai S1 tahun depan dan
selama di Turki aku bisa mendapatkan bahan tentang Syaikh Said An-Nursi.
Selama di Turki juga akan menambah eratnya persaudaraan dengan keluarga
besar di Turki. Setelah selesai S1 Aisha mengalah untuk kembali ke Mesir
menemani aku sampai selesai S2. Sebenarnya aku mempersilakan kalau dia mau
langsung ke Sorbonne, tapi dia tidak mau berpisah denganku sama sekali. Tapi
setelah master aku yang harus mengalah. Aku harus mengikuti Aisha ke
Sorbonne. Setelah kupikir tidak masalah S3 di Sorbonne sementara Aisha S2.
Toh, Almarhum Syaikh Abdullah Darraz, Guru Besar Tafsir Universitas Al Azhar
mengambil S3 nya juga di Sorbonne. Setelah selesai S3 barulah pulang dan
merencanakan hidup di Indonesia, Aisha mengalah untuk tidak langsung S3.
Bahkan seandainya terpaksa S3 di Indonesia tidak apa-apa. Tapi dia membuat
cadangan S3 di Australia yang dekat dengan Indonesia.

Kami lalu merancang agenda setengah tahun ini. Awal bulan depan Aisha
minta ke Alexandria, satu minggu saja, masih dalam rangkaian bulan madu. Dia
juga minta umrah dan selama bulan puasa sampai hari raya ada di tengah keluarga
di Indonesia. Akhirnya sepakat awal Ramadhan pergi umrah, sepuluh hari di
tanah suci dan langsung terbang ke Indonesia.

Lalu kami membuat rencana satu bulan ke depan. Lebih banyak di rumah.
Aisha membuat jadwal kami bermain cinta. Naik perahu berdua di sungai Nil.
Menyaksikan pagelaran musik rakyat Palestina di Opera House. Melihat
pertunjukan drama komedi di Ballon Teater. Pergi ke El-Mo’men Restaurant. Ke
Masjid Musthofa Mahmud mendengarkan ceramah Syaikh Muhammad Said
Ramadhan Al Buthi yang rencananya lima hari lagi akan datang dari Syiria. Aku
menambah jadwal talaqqi qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman dan berkunjung ke
rumah Syaikh Abdul Ghafur Ja’far. Aisha menekankan: Dan ke Alexandria!

Kami lalu membuat jadwal harian. Kapan baca Al-Qur’an dan tadabbur
bersama. Shalat dhuha. Shalat malam. Waktu menerjemah dan waktu yang tepat
untuk bercinta. Begitu selesai membuat rancangan peta hidup Aisha berkata,

“Sayang, aku punya puisi indah untukmu dengarkan:

agar dapat melukiskan hasratku, kekasih,

taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu


Aku langsung menyahut dengan suara lantang seperti Antonius merayu
Cleopatra:

ciuman dalam malam yang hidup,

dan deras lenganmu memeluk daku

seperti suatu nyala bertanda kemenangan

mimpikupun berada dalam

benderang dan abadi

Di tepi sungai Nil, hari-hari yang indah kami lalui bersama. Semua serba
indah. Dunia terasa milik kami berdua. Kenikmatan demi kenikmatan,
kebahagiaan demi kebahagiaan kami reguk bersama. Seperti di surga. Muncul
kebiasaan baru Aisha, ia tidak bisa tidur kecuali aku membelai-belai rambutnya
dan mengelus-elus ubun kepalanya, seperti seorang ibu menidurkan bayinya. Aku
juga semakin banyak tahu watak dan karakter Aisha, tingkahnya kalau merajuk,
tidak suka, marah, caranya memuji, hal-hal yang ia sukai dan ia benci, juga
pengalaman hidupnya sejak kecil. Suatu kali sebelum tidur Aisha bercerita, “Ibu
sering mengajariku agar berdoa dalam sujud saat shalat malam: Ya Allah,
letakkanlah dunia di tanganku, jangan di hatiku.”




104 Terima kasih, suamiku.

105 Terima kasih kembali.