Omdysolution
-----------------------------
Rabu, 12 Desember 2007
28. Sidang Penentuan
28. Sidang Penentuan



Sidang penentuan itu pun datang. Amru dan Magdi datang dengan wajah
tenang. Syaikh Ahmad dan isterinya juga datang. Orang-orang Indonesia di Mesir
banyak yang datang. Namun Maria, dan Aisha belum juga datang. Sudah dua
puluh menit menunggu mereka belum juga kelihatan. Noura dan keluarganya
beberapa kali memandangku dengan pandangan yang merendahkan. Apapun yang
akan terjadi aku pasrah kepada Tuhan.

Akhirnya hakim memulai sidang. Sambil menunggu Maria datang, Amru
mengajukan Syaikh Ahmad dan isterinya sebagai saksi. Mereka berdua tampil
bergantian memberikan kesaksian. Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menangis
saat memberikan kesaksiannya. Ia merasa sangat sakit hatinya atas apa yang
dilakukan Noura. Sambil terisak dan sesekali menyeka matanya Ummu Aiman
berkata, “Entah dengan siapa Noura melakukan perzinahan. Tapi jelas bukan
dengan Fahri. Apa yang dikatakan Noura bahwa Fahri memperkosanya adalah
fitnah yang sangat keji. Noura sungguh gadis yang tidak tahu diri. Ia telah
ditolong tapi memfitnah orang yang dengan tulus hati menolongnya. Aku hanya
bisa bersaksi bahwa selama Noura di Tafahna ia menceritakan kejadian malam itu
dan tidak pernah menyebut bersama Fahri dari jam tiga sampai azan pertama. Ia
bercerita malam itu ia bersama Maria sampai pagi. Jika pengadilan ini akhirnya
memenangkan seorang pemfitnah maka kelak di hari kemudian seorang pemfitnah
akan dibinasakan oleh keadilan Tuhan.”

Kulihat reaksi Noura. Dia hanya menundukkan kepala. Sementara ayah
dan ibunya menatap Ummu Aiman tanpa kedip dengan tatapan garang dan
kebencian. Jaksa penuntut mencerca Ummu Aiman dengan beberapa pertanyaan
dan Ummu Aiman menjawabnya dengan tenang. Beberapa kali ia menjawab,
‘Tidak tahu!’

Ketika Ummu Aiman turun dari memberikan kesaksian, Maria datang. Ia
duduk di atas kursi roda didorong oleh adiknya Yousef. Di iringi Aisha, Tuan
Boutros, Madame Nahed, Paman Egbal, Bibi Sarah, dan seorang polisi berdasi
yang gagah. Melihat Maria datang serta merta Syaikh Ahmad bertakbir diikuti
oleh gemuruh takbir orang-orang Indonesia. Polisi berdasi langsung mendekati


Syaikh Ahmad berbincang sebentar lalu mendekati Amru. Dia tampak
menyerahkan beberapa berkas. Amru melihat berkas itu sebentar lalu tersenyum
padaku. Amru meminta kepada hakim untuk mendengarkan kesaksian Maria.
Saksi kunci dalam kasus ini. Sebab dialah yang mengerti dengan pasti apa yang
dilakukan Noura malam itu. Benarkah Noura berada di kamarku antara jam tiga
sampai azan pertama ataukah justru Noura bersama Maria. Hakim mempersilakan
Maria berbicara setelah disumpah akan memberikan kesaksian yang sejujur-
jujurnya. Maria pun berbicara dengan suara agak lemah. Wajahnya tampak
memerah karena emosi. Ia berusaha menahan emosinya. Mikrofon yang
dipegangnya cukup membantu memperjelas suaranya.

“Pak Hakim dan seluruh yang hadir dalam sidang ini, saya berani bersaksi
atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa Noura malam itu, sejak pukul
dua malam sampai pagi berada di kamarku. Ia sama sekali tidak keluar dari
kamarku. Ia selalu bersamaku. Jika dia mengatakan pukul tiga aku mengantarnya
turun ke rumah Fahri itu bohong belaka. Dalam rentang waktu itu dia sama sekali
tidak keluar dari rumahku. Jika Noura mengatakan pemerkosaan atas dirinya
terjadi dalam rentang waktu itu sungguh tidak masuk akal. Bagaimana mungkin
ada pemerkosaan waktu itu padahal dia berada di kamarku. Dan Fahri berada di
kamarnya. Untuk membuktikan omongan saya ini, saya punya bukti nyata.
Begini, kira-kira pukul tiga lebih sepuluh menit Maria menelpon ke salah satu
temannya dengan telpon rumahku. Dia menelpon teman satu kelasnya bernama
Khadija yang tinggal di Wadi Hof. Dia berbicara kira-kira sepuluh menit. Dan
kami bawa bukti tercatat dari kantor telkom adanya percakapan itu. Bahkan
rekaman pembicaraan Noura dengan Khadija juga ada. Kebetulan Khadija juga
datang bersama kami. Dia bisa menjadi saksi. Dengan bukti kuat ini, aku berharap
Bapak Hakim bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Apa yang
dikatakan Noura adalah fitnah belaka. Dia harus mendapatkan ganjaran atas
tuduhan kejinya. Entah setan apa yang membuat Noura yang dulu jujur dan baik
hati kini berubah menjadi tukang fitnah yang tidak memiliki nurani. Dia
menyerahkan kegadisannya pada orang lain lalu menuduh Fahri yang
melakukannya. Aku sangat menyesal menolong perempuan berhati busuk seperti
dia. Demi Allah Yang Maha Mengetahui, aku tidak rela atas tuduhan yang


dilontarkan Noura kepada Fahri. Aku tidak rela. Jika sampai Fahri divonis salah
maka Noura akan menjadi musuhku di hadapan Allah di akherat
kelak..ugh..ugh..ugh..!” Maria batuk lalu jatuh tak sadarkan diri di kursi rodanya.
Madame Nahed yang tahu akan hal itu langsung mengambil Maria dan
menggeledeknya keluar ruangan bersama Yousef. Mungkin langsung
membawanya kembali ke rumah sakit.

Setelah Maria, Khadija memberikan kesaksian memang benar pada malam
itu sekitar jam tiga lebih Noura menelponnya dan menceritakan kisah sedihnya.
Namun Noura minta agar tidak memberitahukan Bahadur bahwa dia
menelponnya. Amru lalu memberikan selembar kertas dari kantor telkom Mesir
berisi perincian pemanggilan dan penerimaan panggilan nomor telpon rumah
Maria. Yang membuat heran adalah Amru membunyikan rekaman pembicaraan
Noura-Khadija via telpon malam itu. Setelah itu Amru mengajukan kesaksian
paling mengejutkan yaitu kesaksian lelaki ceking bernama Gamal yang pada saat
pengadilan pertama menjadi saksi pihak Noura. Kini Gamal bersaksi kembali:

“Pak Hakim dan hadirin semuanya. Saya ingin memberikan kesaksian
yang sejujurnya. Di tempat ini saya hendak berkata apa sebenarnya yang saya
alami. Sebenarnya apa yang saya katakan pada pengadilan pertama tidak benar.
Saya minta maaf atas kesaksian palsu saya. Saya khilaf. Dan pada kesempatan
kali ini saya mengaku dengan sejujurnya saya tidak tahu menahu mengenai
masalah ini. Saya tidak melihat nona Noura turun dan masuk rumah Fahri. Sebab
malam itu saya tidur di rumah bersama isteri dan anak saya. Saya bukan seorang
pemburu burung hantu. Itu semua rekayasa belaka. Terima kasih.”

Setelah mendengar semua kesaksian itu Amru berpidato dengan bahasa
yang luar biasa kuatnya. Ia meyakinkan kepada siapa saja yang mendengarnya
bahwa Noura seorang pemfitnah. Berkali-kali dengan bahasa yang kuat dan tajam
dia menghabisi Noura. Kulihat Noura pucat dan meneteskan air mata. Selesai
Amru bicara Noura angkat tangan dan minta kepada hakim untuk bicara. Hakim
memberinya waktu lima menit. Noura berdiri dan menuju podium. Di sana dia
berbicara dengan kepala menunduk sambil menangis terisak-isak:

“Pak Hakim dan hadirin sekalian. Selamanya kebenaran akan menang.
Jika tidak di pengadilan dunia maka kelak di pengadilan akhirat. Selamanya


rekayasa manusia tiada artinya apa-apa dibanding kekuasaan Tuhan. Hadirin, jika
ada gadis malang di dunia ini yang semalang-malangnya adalah diriku. Sejak
kecil sampai beberapa bulan yang lalu aku diasuh oleh orang yang bukan orang
tua kandungku. Waktu bayi aku tertukar di rumah sakit dengan bayi lain. Aku
hidup dalam keluarga bermoral setan. Namun aku selalu tabah dan terus bertahan.
Sampai akhirnya malam itu. Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Malam itu sebelum aku diusir dan diseret si jahat Bahadur ke jalan terlebih dahulu
aku diperkosanya…hiks..hiks..!” Noura tersedu sesaat lamanya. Ruang pengadilan
diselimuti keheningan berbalut kepiluan dan rasa kasihan.

“Aku merasa bisa menyembunyikan aib yang menimpaku. Aku kira tidak
akan terjadi apa-apa denganku. Waktu terus berjalan sampai akhirnya Allah
mempertemukan diriku dengan kedua orang tua kandungku lewat bantuan banyak
orang termasuk, Fahri, Maria, Nurul, Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman. Kedua
orang tua kandungku adalah orang terpandang dan dari keluarga besar terhormat.
Mereka menerima kedatanganku dengan penuh rasa bahagia luar biasa. Petaka itu
datang kembali ketika perutku semakin membesar. Mereka menanyakan padaku
siapa yang telah menghamiliku. Aku tak mau berterus terang bahwa Bahadur yang
menghamiliku dengan memperkosa. Aku sudah sangat benci dengan dirinya.
Akhirnya aku berbohong pada mereka yang menghamiliku adalah Fahri. Sebab
aku sangat mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau menikahiku. Namun
yang kulakukan ternyata tak lain adalah dosa besar yang sangat keji aku telah
menghancurkan kehidupan orang yang kucintai dan di sisi lain aku telah
membiarkan penjahat yang menghamiliku tertawa terbahak-bahak. Semua
rekayasa yang telah diatur rapi juga diporak-porandakan oleh kekuasaan Allah
Swt. Di sini, sebelum di akhirat nanti, aku akui dengan sejujurnya Fahri tidak
bersalah. Dia bersih. Dan kepadanya dan kepada keluarganya serta siapa saja yang
terzhalimi atas kebodohanku aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Aku
memang ditakdirkan untuk hidup malang di dunia. Namun aku bertekad
memperbaiki diri agar tidak malang di akhirat kelak.”

Atas dasar semua bukti yang ada dan pengakuan Noura akhirnya mau
tidak mau Dewan Hakim memutuskan diriku tidak bersalah dan bebas dari
dakwaan apa pun. Takbir dan hamdalah bergemuruh di ruang pengadilan itu


dilantunkan oleh semua orang yang membela dan bersimpati padaku. Seketika
aku sujud syukur kepada Allah Swt. Aisya memelukku dengan tangis bahagia
tiada terkira. Paman Eqbal dan bibi Noura tak mampu membendung air matanya.
Syaikh Ahmad dan Ummu Aiman juga sama. Nurul dan suaminya yaitu Mas
Khalid datang memberi selamat dengan mata berkaca. Satu persatu orang-orang
Indonesia yang di dalam ruangan itu memberi selamat dengan wajah haru. Amru
memberi tahu bahwa Kolonel Ridha Shahata, sepupu Syaikh Ahmad yang
memiliki posisi cukup penting di Badan Kemanan Negara juga punya andil dalam
membantu mendapatkan bukti dari kantor telkom dan memaksa Gamal berkata
jujur. Suatu bukti bahwa dunia belum kehilangan orang-orang yang baik dan cinta
keadilan.