Omdysolution
-----------------------------
Rabu, 12 Desember 2007
3. Keributan Tengah Malam
3. Keributan Tengah Malam



Aku sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang melelahkan.
Ubun-ubun kepalaku rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang
berangkat talaqqi pada Syaikh Utsman hanya tiga orang. Aku, Mahmoud dan
Hisyam. Syaikh Utsman jangan ditanya. Disiplin beliau luar biasa. Meskipun
cuma tiga yang hadir, waktu talaqqi tetap seperti biasa. Jadi, kami bertiga
membaca tiga kali lipat dari biasanya. Jatah membaca Al-Qur’an sepuluh orang
kami bagi bertiga. Untungnya masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq ber-AC. Jika tidak,
aku tak tahu seperti apa menderitanya kami. Mungkin konsentrasi kami akan
berantakan, dan kami tidak bisa membaca seperti yang diharapkan.

Seperti mengerti keinginan kami, begitu selesai talaqqi, Amu Farhat,
takmir masjid yang baik hati itu membawakan empat gelas tamar hindi43 dingin.
Bukan main segarnya ketika minuman segar itu menyentuh lidah dan
tenggorokan. Selesai minum aku pulang. Mahmoud, Hisyam, Amu Farhat dan
Syaikh Utsman meneruskan perbincangan menunggu ashar.

Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul
setengah empat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada di dalam
metro rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuatku lupa
akan titipan Maria. Aku teringat ketika keluar dari mahattah Hadayek Helwan.
Ada dua toko alat tulis. Kucari di sana. Dua-duanya kosong.. Aku melangkah ke
Pyramid Com. Sebuah rental komputer yang biasanya juga menjual disket.
Malang! Rental itu tutup. Terpaksa aku kembali ke mahattah dan naik metro ke
Helwan. Di kota Helwan ada pasar dan toko-toko cukup besar. Di sana
kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria. Dan dua untuk
diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid yang berada tepat di sebelah barat
mahattah Helwan untuk shalat ashar.

Terik matahari masih menyengat ketika aku keluar masjid untuk pulang.
Di tengah perjalanan aku melewati Universitas Helwan yang lengang. Hanya
seorang polisi berpakaian lusuh yang menjaga gerbangnya. Tampangnya
mengenaskan. Masih muda, tapi kurus kering. Seperti pohon pisang kering. Atau


44 Kondektur.

45 Sari air tebu. (Minuman paling memasyarakat di Mesir saat musim panas).

seperti dendeng di Saudi kala musim haji. Mukanya tampak kering. Panas sahara
seperti menghisap habis darahnya. Ia pasti prajurit wajib militer yang biasa
disebut duf’ah. Polisi paling menderita karena bertugas dengan sangat terpaksa.
Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa pound saja. Wajar jika tampangnya
mengenaskan. Bisa jadi ia masih berstatus mahasiswa. Karena memang seluruh
laki-laki Mesir terkena wajib militer. Seorang kumsari44 mendekat. Ia gemuk,
kepalanya bulat penuh keringat. Perutnya buncit seperti balon mau meletus. Beda
sekali dengan polisi penjaga gerbang universitas itu. Dunia ini memang penuh
perbedaan-perbedaan dan hal-hal kontras yang terkadang tidak mudah dimengerti.
Metro terus melaju.

Sampai di flat, tenagaku nyaris habis. Kulepas sepatu dan kaos kaki lalu
masuk kamar. Sampai di kamar langsung kunyalakan kipas angin, kulepas tas,
topi, kaca mata hitam, dan kemeja putihku. Kuusap mukaku dengan tissu. Hitam.
Banyak debu menempel. Aku lalu beranjak ke ruang tengah, membuka lemari es,
mencari yang dingin-dingin untuk menyegarkan badan. Begitu membuka pintu
lemari es mataku membelalak berbinar. Ada sebotol ashir ashab.45 Dingin.
Kutuangkan untuk satu gelas. Sambil membawa gelas berisia ashir ashab aku
berteriak,

“Siapa nih yang beli ashir ashab. Pengertian sekali. Syukran ya. Semoga
umurnya diberkahi Allah.”

Rudi keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.

“Mas. Ashir ashab itu bukan kami yang beli.”

“Terus dapat dari mana?”

“Tadi diberi oleh Maria.”

“Apa? Diberi oleh Maria?”

“Iya. Katanya untuk Mas. Makanya masih utuh satu botol. Kami tidak
menyentuhnya sebelum dapat izin dari Mas. Sekarang kami boleh ikut mencicipi
‘kan Mas?”

“Ah kamu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang penting aku
disisain. Pakai menunggu izin segala.”


46 Dan jika kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya (QS. An-Nisaa’: 86)

“Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan Boutros itu
perhatian sekali sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas.”

“Hus jangan ngomong sembarangan! Mereka itu memang tetangga yang
baik. Sejak awal kita tinggal di sini mereka sudah baik sama kita. Bukan sekali ini
mereka memberi sesuatu pada kita.”

“Tapi kenapa Maria bilang untuk Mas. Bukan untuk kita semua?”

“Lha ketahuan ‘kan? Kau cemburu, jangan-jangan kau yang jatuh cinta.
Ya udah nanti biar kusampaikan sama Maria dan Tuan Boutros ayahnya, kalau
memberi sesuatu biar yang disebut namamu hehehe.”

“Jangan Mas. Bukan itu maksudku?”

“Terus?”

“Tapi Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas.”

“Akh Rudi, kamu jangan berprasangka yang bukan-bukan. Kamu ‘kan
tahu. Maria berbuat begitu atas nama keluaganya, atas petunjuk ayahnya yang
baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali
memberi makanan, minuman atau menyampaikan sesuatu ya selalu lewat aku, as
a leader here. Dia menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku
dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person
saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut
keyakinan yang berbeda. Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang
beradab di muka bumi ini. Sudahlah kau jangan memikirkan hal yang terlalu jauh.
Tugas kita di sini adalah belajar. Kita belajar sebaik-baiknya. Di antaranya adalah
belajar bertetangga yang baik. Karena kita telah diberi, ya nanti kita gantian
memberi sesuatu pada mereka. Wa idza huyyitum bi tahiyyatin fa hayyu bi
ahasana minha!”46

“Saya mengerti, Mas. Afwan jika ucapan saya tadi ada yang kurang
berkenan.”

“Udah jangan dipikir. Emm..bagaimana makalahmu? Sudah selesai?”

“Alhamdulillah, Mas.”

“Kapan dipresentasikan?”

“Sabtu sore.”


47 Semoga sukses.

“Di mana?”

“Di Wisma Nusantara.”

“Ma’at taufiq.”47

Aku melangkah ke kamar sambil membawa segelas ashir ashab.
Kuselonjorkan kakiku di atas karpet. Punggungku kusandarkan ke pinggir tempat
tidur. Untung tembok apartemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara panas
di luar apartemen tidak mudah menembus masuk. Meskipun agak hangat tapi
tidak sepanas di luar. Dan dengan kipas angin sudah cukup membuat udara yang
hangat itu menjadi sejuk. Kuteguk ashir ashab. Perlahan. Dingin mengaliri
tenggorokan. Oh luar biasa nikmatnya. Di kawasan beriklim panas, seperti Mesir
dan negara Timur Tengah lainnya, air dingin memang sangat menyenangkan. Jika
air dingin itu membasahi tenggorokan yang kering rasanya seperti meneguk air
sejuk dari surga, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Orang yang kehausan di
tengah sahara yang paling ia damba dan ia cinta adalah air dingin penawar
dahaga. Tak ada yang lebih ia cinta dari itu. Di sinilah baru bisa kurasakan betapa
dahsyat doa baginda Nabi,

‘Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada harta,
keluarga dan air yang dingin’.

Beliau meminta agar cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada air
yang dingin, yang sangat dicintai, disukai, dan diingini oleh siapa saja yang
kehausan di musim panas. Di daerah yang beriklim panas, cinta pada air yang
sejuk dingin dirasakan oleh siapa saja, oleh semua manusia. Jika cinta kepada
Allah telah melebihi cintanya seseorang yang sekarat kehausan di tengah sahara
pada air dingin, maka itu adalah cinta yang luar biasa. Sama saja dengan melebihi
cinta pada nyawa sendiri. Dan memang semestinya demikianlah cinta sejati
kepada Allah Azza Wa Jalla. Jika direnungkan benar-benar, baginda Nabi
sejatinya telah mengajarkan idiom cinta yang begitu indah.

Setelah keringat hilang, dan ubun-ubun kepala mulai dingin aku bangkit
hendak mengambil handuk. Aku harus mandi, badan rasanya tidak nyaman. Harus
dibersihkan dan disegarkan. Baru menyentuh handuk, handphone-ku memerik
singkat. Ada sms masuk. Kubuka. Dari Maria,


48 Kaset yang merekam Al-Qur’an dibaca secara tartil.

“Sudah pulang ya? Bagaimana dengan titipanku, dapat?”

Langsung kujawab,

“Dapat. Terima kasih atas ashir ashabnya.”

Kuletakkan handphone-ku di atas meja. Aku langsung bergegas mandi.
Baru menutup kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku, kudengar si
handphone memekik lagi. Maria pasti mengirim pesan balik. Ah, biar, nanti saja
setelah mandi. Kuputar kran wastafel. Aku ingin cuci tangan. Air mengalir.
Kusentuh. Hangat sekali. Berarti pipa-pipa yang berada di dalam tanah berpasir
yang mengalirkan air dari tandon raksasa itu telah panas. Aku jadi teringat saat
umrah ke Saudi di puncak musim panas tahun lalu. Baik siang atau pun malam,
kalau hendak mandi harus mendinginkan air dulu di ember besar. Sebab air yang
keluar dari kran sangat panas. Harus ditampung di ember besar dan ditunggu
sampai dingin. Kulihat bath-tub penuh dengan air. Alhamdulillah, teman-teman
sangat pengertian dan cerdas. Aku bisa langsung mandi tanpa menunggu air
dingin. Ketika air menyiram seluruh tubuh rasa segar itu susah diungkapkan
dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya pulih kembali.

Usai berganti pakaian kurebahkan diriku di atas kasur. Oh, alangkah
nikmatnya. Ini saatnya istirahat. Kunyalakan tape kecil di samping tempat tidur.
Enaknya adalah memutar murattal48 Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri. Suaranya
yang sangat lembut dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an
sering membawa terbang imajinasiku ke tempat-tempat sejuk. Ke sebuah danau
bening di tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang ke suasana senja yang
indah di tepi pantai Ageeba, pantai laut Mediterania yang menakjubkan di Mersa
Mathruh. Bahkan bisa membawaku ke dunia lain, dunia indah di dalam laut
dengan ikan-ikan hias dan bebatuan yang seperti permata-permata di surga. Dalam
keadaan lelah selalu saja suara Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri menjadi musik
pengantar tidur yang paling nikmat. Meski terkadang aku harus terlebih dahulu
meneteskan air mata, kala mendengar Syaikh Syathiri sesengukan menangis
dalam bacaannya. Kunyalakan murattal Syaikh Syatiri. Suaranya yang indah
langsung mengelus-elus syaraf-syarafku. Mataku mulai liyer-liyer hendak


terpejam. Tiba-tiba handphone-ku kembali memekik. Aku teringat sesuatu.
Titipan Maria. Kubaca pesan Maria.

Ada tiga pesan:

“Buka jendela sekarang. Aku akan turunkan keranjang.”

“Kau sedang apa? Aku sudah turunkan keranjang. Lama sekali.”

“Kenapa tidak ada respons?”

Aduh, kasihan Maria. Dia tadi sudah lama membuka jendelanya dan
menurunkan keranjang.

Langsung kujawab,

“Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu terakhir baru
kubuka setelah mandi. Afwan. Sekarang bisa kau turunkan keranjang.”

Kutunggu respons darinya. Tak lama pesannya masuk,

“O, begitu. Tak apa-apa. Ini kuturunkan keranjangnya.”

Aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil dua disket dalam tas. Lalu
menuju jendela. Kubuka jendela. Hawa panas langsung masuk. Sebuah keranjang
kecil dijulurkan dengan tambang kecil putih dari atas. Ada uang sepuluh pound di
dalamnya. Kuletakkan dua disket itu dalam keranjang tanpa menyentuh uang
sepuluh pound itu sama sekali.

Kamar Maria memang tepat di atas kamarku, dan jendela kamarnya tepat
di atas jendela kamarku. Orang Mesir yang berada di atas lantai dua biasanya
memiliki keranjang kecil yang seringkali digunakan untuk suatu keperluan tanpa
harus turun ke bawah. Jika ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan atau sayur-sayuran
pada penjual buah atau penjual sayur keliling, biasanya mereka menggunakan
keranjang kecil itu, tanpa harus turun dari rumah mereka yang berada di atas.
Mereka cukup pesan berapa kilo, setelah sepakat harganya mereka menurunkan
keranjang kecil yang di dalamnya sudah ada uang untuk membayar barang yang
dipesannya. Tukang buah atau tukang sayur akan mengisi keranjang itu dengan
barang yang dipesan setelah mengambil uangnya. Jika uangnya lebih, mereka
akan mengembalikannya sekaligus bersama barang yang dipesan. Barulah si ibu
mengangkat keranjangnya seperti orang menimba. Transaksi yang praktis.
Pertama kali melihat aku heran. Yang aku herankan adalah begitu amanah-nya


49 Ruzz bil laban: Bubur dari beras yang dibuat dengan susu. Setelah dingin dimasukkan
dalam kulkas.

penjual buah itu. Mereka tidak curang. Tidak berusaha nakal. Maria atau ibunya
juga biasa membeli sayur atau buah dengan cara seperti itu.

Maria mengangkat keranjangnya. Aku menutup jendela. Tak lama
kemudian handphone-ku kembali bertulalit. Maria lagi,

“Harganya berapa? Uangnya kok tidak diambil, kenapa?”

Kujawab,

“Harganya zero, zero, zero pound. Jadi tak perlu dibayar.”

Ia menjawab,

“Jangan begitu. Itu tidak wajar.”

Kujawab,

“Harganya seperti biasa. Uangnya kau simpan saja.

Kalau kau buat Ruzz bil laban49 titip ya. Bolehkan?”

Ia menjawab,

“Baiklah kalau begitu. Dengan senang hati. Syukran!”

Kujawab,

“Afwan.”

Klik. Handphone kunonaktifkan. Aku ingin tidur. Pada saat yang sama,
kudengar suara pintu terbuka. Lalu suara Hamdi mengucapkan salam. Kujawab
lirih. Alhamdulillah dia pulang. Dia nanti akan masak oseng-oseng wortel campur
kofta. Aku senang bahwa teman-teman satu rumah ini mengerti dengan kewajiban
masing-masing. Kewajiban memasak sesibuk apa pun adalah hal yang tidak boleh
ditinggalkan. Sepertinya remeh tapi sangat penting untuk sebuah tanggung jawab.
Masak tepat pada waktunya adalah bukti paling mudah sebuah rasa cinta sesama
saudara. Ya inilah persaudaraan. Hidup di negeri orang harus saling membantu
dan melengkapi. Tanpa orang lain mana mungkin kita bisa hidup dengan baik.

Sambil rebahan kunikmati suara Syaikh Syathiri membaca Al-Qur’an
mengalun indah. Maghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih panjang
dari malam. Aku harus beristirahat. Nanti malam harus kembali memeras otak.
Menerjemah untuk biaya menyambung hidup. Ya, hidup ini—kata Syauqi, sang
raja penyair Arab—adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang


mukmin sejati—kata Imam Ahmad bin Hanbal—tidak akan berhenti kecuali
ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga.

* * *



Seperti biasa, usai shalat maghrib berjamaah di masjid kami berkumpul di
ruang tengah untuk makan bersama. Kali ini kami hanya berempat. Masih kurang
satu, yaitu Si Mishbah. Ia belum pulang. Ia masih di Wisma Nusantara yang
menjadi sentral kegiatan mahasiswa Indonesia. Gedung yang diwakafkan oleh
Yayasan Abdi Bangsa itu terletak di Rab’ah El-Adawea, Nasr City.

Hamdi baru pulang dari Masjid Indonesia. Ia banyak bercerita tentang
anak-anak para pejabat KBRI yang lucu-lucu dan manja-manja. Dibandingkan
yang ada di negara lain, KBRI di Cairo bisa dibilang termasuk yang beruntung.
Komunitas yang mereka urusi adalah mahasiswa Al Azhar. Kegiatan keislaman
dan pengajian antaribu-ibu KBRI juga berjalan lancar. Tiap Ramadhan ada
tarawih bersama. Juga ada pesantren kilat untuk putera-puteri mereka. Semuanya
dipandu oleh mahasiswa dan mahasiswi Al Azhar. Masalah yang dihadapi KBRI
Cairo tidak serumit yang dihadapi oleh KBRI di Saudi Arabia misalnya, yang
setiap hari berurusan dengan TKI atau TKW dengan setumpuk masalahnya yang
sangat memuakkan. Misalnya, tidak dibayar majikan, disiksa majikan, diperkosa
majikan, diperlakukan seperti budak oleh majikan, dihamili oleh sesama tenaga
kerja dari Indonesia, ditangkap polisi karena tidak punya izin tinggal resmi, dan
lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Masjid Indonesia yang dibangun oleh para pejabat KBRI bahkan telah
memiliki perpustakaan yang cukup mengasyikkan bagi putera-puteri mereka.
Manajemen masjidnya lumayan baik. Teks khutbah Jum’atnya dibukukan tiap
tahun. Masjid Indonesia bahkan biasa menjadi tempat rekreasi para mahasiswa
yang ingin melepas penat pikiran. Mereka yang mayoritasnya tinggal di Nasr
City, jika merasa bosan bisa main ke Dokki. Silaturrahmi ke rumah pejabat KBRI
yang dikenal. Atau ke Masjid Indonesia yang terletak di Mousadda Street. Pergi
ke Dokki pada hari Jum’at sangat tepat. Selain shalat Jum’at bersama dan
bersilaturrahim dengan sesama orang Indonesia, usai shalat Jum’at biasanya ada
makan bersama di belakang masjid. Makanan disediakan oleh para pejabat KBRI


muslim secara bergiliran. Jika keadaan ini terus bertahan niscaya sangat indah
untuk dikisahkan dan dikenang.

Usai makan, aku melakukan rutinitasku di depan komputer.
Mengalihbahasakan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kali ini
yang aku garap adalah kitab klasik karya Ibnu Qayyim, yaitu kitab Miftah Daris
Sa’adah. Dua jilid besar. Kitab berat. Menggarap kitab ini benar-benar menguras
pikiran dan tenaga. Aku harus ekstra serius dan hati-hati pada saat Ibnu Qayyim
membahas masalah ilmu perbintangan, horoskop, pengaruh planet-planet, ramalan
nasib, dan lain sebagainya. Bahasa ilmu falak dan astronomi adalah bahasa yang
tidak mudah. Aku terpaksa membuka kamus klasik berkali-kali. Apalagi bahasa
yang dipakai Ibnu Qayyim adalah bahasa Arab klasik. Itu saja tidak cukup, harus
juga didampingi dengan kamus dan buku astronomi modern. Dan tatkala yang
ditulis Ibnu Qayyim telah terang maksudnya, aku bagaikan menemukan mutiara
tidak ternilai harganya. Ibnu Qayyim ternyata juga seorang astronom yang luar
biasa.

Menerjemahkan sebuah kitab klasik terkadang terasa sangat menjemukan.
Namun ketika rasa jemu bisa teratasi kegiatan itu akan berubah menjadi sebuah
rekreasi yang sangat mengasyikkan. Andaikan Ibnu Rusyd masih hidup, aku ingin
bertanya, rasanya seperti apa ketika dia sedang menerjemahkan karya-karya
Aristoteles. Dan seperti apa rasanya ketika telah selesai semuanya?

Malam ini jadwalku sampai jam dua belas. Berhenti ketika shalat Isya.
Akhir bulan naskah harus sudah aku kirim ke Jakarta. Setelah itu ada dua buku
yang siap diterjemah. Buku kontemporer, bahasanya lebih mudah. Seorang teman
pernah mencibir diriku, bahwa menjadi penerjemah sama saja menjadi mesin
pengalih bahasa. Aku tak peduli dengan segala cibiran mereka. Aku merasa
nikmat dengan apa yang aku kerjakan. Aku bisa belajar menambah ilmu,
mentransfer ilmu pengetahuan dan berarti ikut serta mencerdaskan bangsa. Aku
bisa berkarya, sekecil apa pun bentuknya. Berdakwah, dengan kemampuan
seadanya. Dan yang terpenting aku bisa hidup mandiri dengan royalti yang aku
terima. Tidak seperti mereka yang bisanya mencibir saja. Menuruti kata orang
tidak akan pernah ada habisnya. Kamu tidak akan mungkin bisa memenuhi segala


50 Ayam bakar.

51 Apa pendapat kalian.

kesesuaian dengan hati semua manusia! Kata-kata Imam Syafii mengingatkan
diriku.

* * *

Pukul 22.00 waktu Cairo. Handphone-ku berdering. Ada sms masuk. Dari
Musthafa, teman Mesir satu kelas di pasca. Ia memberikan kabar gembira,

“Mabruk. Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore pengumumannya
keluar.”

Aku merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras ke
dalam ubun-ubun kepalaku lalu menyebar ke seluruh tubuh. Seketika itu aku
sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa seperti dibelai-belai tangan
Tuhan. Setelah puas sujud syukurku aku mengungkapkan rasa gembiraku pada
teman-teman satu rumah. Mereka semua menyambut dengan riang gembira.
Dengan tasbih, tahmid dan istighfar. Dengan mata yang berbinar-binar.
Kukatakan pada mereka,

“Malam ini juga kita syukuran. Kita beli firoh masywi50 dua. Lengkap
dengan ashir mangga. Kita makan nanti tengah malam, bersama-sama di sutuh
sana. Bagaimana. Eh ra’yukum51?”

“Kalau ini sih usul yang susah ditolak!” sahut Saiful senang. Siapa yang
tidak senang diajak makan ayam bakar gratis.

Kukeluarkan uang lima puluh pound.

“Biar aku sama Saiful saja yang beli. Mas Fahri sama Hamdi di rumah
saja. Kalian masih capek ‘kan karena perjalanan tadi siang. Okay?” Rudi
menawarkan diri.

“Okay. Oh ya jangan cuma ashir mangga, beli juga tamar hindi ya?
Jangan lupa!” sahut Hamdi. Ia memang paling suka sama tamar hindi. Waktu
musim dingin saja ia mencari tamar hindi, apa tidak aneh.

“Beres bos,” seru Saiful.

Keduanya membuka pintu dan keluar.

“Mas aku buat sambal sama menanak sedikit nasi ya?” kata Hamdi.

“Sip. Kita buat bareng,” sambutku sambil mengacungkan kedua jempolku.
Memang, tanpa membuat sambal ala Indonesia kurang mantap. Ayam bakar Mesir


52 Lantai apartemen paling atas dan menghadap langit (atap apartemen).

tidak pakai sambal. Padahal kami berempat adalah orang yang doyan sambal,
terutama Hamdi. Dia jebolan pesantren Lirboyo, harus pakai sambal.

Saat melangkah ke dapur aku teringat Mishbah. Tidak adil rasanya kami
berempat berpesta tampa mengikutsertakan dia. Namanya keluarga, ketika senang
harus dirasakan bersama. Aku tersenyum. Masalah yang mudah. Kutelpon
Wisma. Aku minta disambungkan pada Mishbah. Kuberitahukan padanya orang
satu rumah akan syukuran atas kelulusanku. Ia berteriak gembira,

“Mas apa aku pulang saja sekarang? Pakai taksi ‘kan cepat!”

“Kerjamu sudah selesai?” tanyaku.

“Belum sih sekarang aku lagi membuat estimasi dana sama Mas Khalid.”

“Kalau begitu kau selesaikan saja pekerjaanmu. Kalau kau pulang ke
Hadayek Helwan kau akan terlalu capek. Begini saja Akhi, kau ajak saja Mas
Khalid istirahat ke Babay atau ke mana terserah. Ajak makan firoh masywi. Pakai
uangmu atau uangnya Mas Khalid dulu. Nanti aku ganti. Jadi adil, bagaimana?”

“Kalau begitu siiip-lah Mas. Pokoknya alfu mabruk deh.” Suaranya
terdengar girang. Aku tersenyum. Ah, musim panas yang menyenangkan,
meskipun melelahkan.

Dalam segala musim, Tuhan selalu Penyayang.

Itu yang aku rasakan.

* * *

Tepat tengah malam kami pergi ke suthuh.52 Membawa tikar, nampan
besar, empat gelas plastik, ashir mangga, tamar hindi, dan dua bungkus firoh
masywi yang masih hangat dan sedap baunya.

Kami benar-benar berpesta. Dua ciduk nasi hangat digelar di atas nampan.
Sambal ditumpahkan. Lalu dua ayam bakar dikeluarkan dari bungkusnya. Tak
lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untuk dua orang.

“Sekali-kali kita jadi orang Mesir beneran, satu ayam untuk dua orang,”
komentar Rudi.

“Kalau ini bukan makan nasi lauk ayam. Ini makan ayam lauk nasi.
Nasinya dikit sekali. Mbok ditambah dikit,” sambung Saiful.


“Tujuannya memang kita makan ayam bakar. Nasi pelengkap saja untuk
melestarikan budaya Indonesia. Bagi yang mau tambah nasi ambil saja sendiri.
Benar nggak Mas?” sahut Hamdi.

“Sekarang bukan saatnya diskusi. Kalau mau diskusi besok Sabtu di
Wisma Nusantara. Rudi presentatornya. Bismillah, ayo jangan banyak cingcong
langsung kita ganyang saja!” ucapku sambil mencomot daging ayam di
hadapanku. Serta merta mereka melakukan hal yang sama. Kami makan sambil
ngobrol, di belai udara malam yang tidak dingin dan tidak panas. Semilir sejuk.
Keindahan musim panas memang pada waktu malam. Kala langit cerah. Bulan
terang. Bintang-bintang gemerlapan. Dan debu tidak berhamburan. Menikmati
suasana alam di atas suthuh apartemen sangat menyenangkan. Nun jauh di sana
cahaya lampu-lampu rumah dan gedung-gedung dekat sungai Nil tampak
berkerlap-kerlip diterpa angin. Sayup-sayup kami mendengar bunyi irama musik
rakyat mengalun di kejauhan sana. Mungkin ada yang sedang pesta. Alunan itu
ditingkahi puja-puji syair sufi. Sangat khas senandung malam di delta Nil.

Suasana nyaman ini akan jadi kenangan tiada terlupakan. Dan kelak ketika
kami sudah kembali ke Tanah Air, kami pasti akan merindukan suasana indah
malam musim panas di Mesir seperti ini.

Usai makan kami tidak langsung turun. Kami tetap bercengkerama
ditemani semilir angin dari sungai Nil dan satu botol air segar tamar hindi. Kami
bercerita tentang malam-malam berkesan yang pernah kami lewati. Rudi
Marpaung yang berasal dari Medan menceritakan pengalamannya menginap
bersama teman-temannya ketika masih aliyah di Brastagi. Menyewa vila dan
mengadakan shalat tahajjud bersama dalam dinginnya malam. Suasana jadi
semakin asyik ketika Hamdi mengisahkan pengalamannya yang menegangkan
selama tersesat di lereng Gunung Lawu selama dua hari.

“Kami berempat belas. Dibagi dalam dua kelompok. Kami mencoba jalur
baru. Kelompok kami istirahat terlalu lama. Kami mengejar kelompok pertama.
Sayang kurang kompak. Kami bertiga tertinggal dan terlunta selama dua hari
dalam hutan Gunung Lawu. Hanya pertolongan dari Allah yang membuat kami
tetap hidup.”


Sedangkan Saiful yang waktu SMP pernah diajak ayahnya ke Turki
bercerita tentang indahnya malam di teluk Borporus. Ia bercerita detil teluk
Borporus. Lalu mengajak kami membayangkan bagaimana Sultan Muhammad
Al-Fatih merebut Konstantinopel dengan memindahkan puluhan kapal di malam
hari lewat daratan dan menjadikan kapal itu jembatan untuk menembus benteng
pertahanan Konstantinopel.

Di tengah asyiknya bercengkerama, tiba-tiba kami mendengar suara orang
ribut. Suara lelaki dan perempuan bersumpah serapah berbaur dengan suara jerit
dan tangis seorang perempuan. Suara itu datang dari bawah. Kami ke tepi suthuh
dan melihat ke bawah.

Benar, di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis diseret oleh
seorang lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis
yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu diseret
sampai ke jalan.

“Jika kau tidak mau mendengar kata-kata kami, jangan sekali-kali kau
injak rumah kami. Kami bukan keluargamu!” sengit perempuan yang
menendangnya.

Kami kenal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian nasibnya. Namanya
Noura. Nama yang indah dan cantik. Namun nasibnya selama ini tak seindah
nama dan paras wajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja naik ke tingkat akhir
Ma’had Al Azhar puteri. Sekarang sedang libur musim panas. Tahun depan jika
lulus dia baru akan kuliah. Sudah berulang kali kami melihat Noura dizhalimi
oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan kekasaran ayahnya dan dua
kakaknya. Entah kenapa ibunya tidak membelanya. Kami heran dengan apa yang
kami lihat. Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura
disiksa dan diseret tengah malam ke jalan oleh ayah dan kakak perempuannya.
Untung tidak musim dingin. Tidak bisa dibayangkan jika ini terjadi pada puncak
musim dingin.

Noura sesengukan di bawah tiang lampu merkuri. Ia duduk sambil
mendekap tiang lampu itu seolah mendekap ibunya. Apa yang kini dirasakan
ibunya di dalam rumah. Tidakkah ia melihat anaknya yang menangis tersedu
dengan nada menyayat hati. Tak ada tetangga yang keluar. Mungkin sedang lelap


tidur. Atau sebenarnya terjaga tapi telah merasa sudah sangat bosan dengan
kejadian yang kerap berulang itu. Ayah Noura yang bernama Bahadur itu memang
keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak bisa menghargai orang. Seluruh tetangga di
apartemen ini dan masyarakat sekitar jarang yang mau berurusan dengan Si Hitam
Bahadur. Kulitnya memang hitam meskipun tidak sehitam orang Sudan. Hanya
kami yang mungkin masih sesekali menyapa jika berjumpa. Itu pun kami
terkadang merasa jengkel juga, sebab ketika disapa ekspresi Bahadur tetap dingin
seperti algojo kulit hitam yang berwajah batu. Sejak kami tinggal di apartemen ini
belum pernah Si Muka Dingin Bahadur tersenyum pada kami. Kalau suara
tawanya yang terbahak-bahak memang sering kami dengar.

Aku paling tidak tahan mendengar perempuan menangis. Kuajak teman-
teman turun kembali ke flat. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan untuk
menolong Noura. Aku diam belum menemukan jawaban. Aku masuk kamar,
kubuka jendela, angin malam semilir masuk. Noura masih terisak-isak di bawah
tiang lampu. Aku dan teman-teman tidak mungkin turun ke bawah menolong
Noura. Meskipun dengan sepatah kata untuk menghibur hatinya. Atau untuk
memberitahukan padanya bahwa sebenarnya ada yang peduli padanya. Tidak
mungkin. Jika ada yang salah persepsi urusannya bisa penjara. Apalagi Si Hitam
Bahadur bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan akal sehatnya.

Aku teringat Maria. Ia gadis yang baik hatinya. Rasa ibaku pada Noura
menggerakkan tanganku untuk mencoba mengirim sms pada Maria.

“Maria. Apa kau bangun. Kau dengar suara tangis di bawah sana?”

Kutunggu. Lima menit. Tak ada jawaban. Kuulangi lagi. Kutunggu lagi.
Ada jawaban.

“Ya aku bangun. Aku mendengarnya. Aku lihat dari jendela Noura
memeluk tiang lampu.”

“Apa kau tidak kasihan padanya?”

“Sangat kasihan.”

“Apa kau tidak tergerak untuk menolongnya.”

“Tergerak. Tapi itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”


“Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja. Ayahku tidak mau berurusan
dengannya.”

“Tidakkah kau bisa turun dan menyeka air matanya. Kasihan Noura. Dia
perlu seseorang yang menguatkan hatinya.”

“Itu tidak mungkin.”

“Kau lebih memungkinkan daripada kami.”

“Sangat susah kulakukan!” Maria menolak.

“Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. Aku paling tidak tahan jika
ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal
baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya
ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya.”

“Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa!”

“Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon!”

“Baiklah, demi cintaku pada Al-Masih akan kucoba. Tapi kau harus tetap
mengawasi dari jendelamu. Jika ada apa-apa kau harus berbuat sesuatu.”

“Jangan kuatir. Tuhan menyertai orang yang berbuat kebajikan.”

Benar dugaanku. Sebenarnya banyak tetangga yang terbangun oleh
teriakan-teriakan Bahadur dan jeritan Noura. Tapi mereka tidak tahu harus berbuat
apa. Pernah seorang tetangga memanggil polisi, tapi Noura tidak mau ayahnya
diperkarakan, Noura malah mengaku dia yang salah dan ayahnya berhak marah.
Mau bagaimana? Noura sepertinya tidak mau dibela padahal apa yang dilakukan
ayahnya padanya telah melewati batas. Tuan Boutros, ayah Maria pernah menegur
Si Hitam Bahadur atas perlakuannya yang tidak baik pada anak bungsunya. Tapi
apa yang terjadi? Bahadur malah melontarkan sumpah serapah yang tidak enak
didengar telinga.

Dari jendela aku melihat Maria berjalan mendekati Maria. Ia memakai
jubah biru tua. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Maria lalu
duduk di samping Noura. Ia kelihatannya berbicara pada Noura sambil mengelus-
elus kepalanya. Noura masih memeluk tiang lampu. Maria terus berusaha.
Akhirnya kulihat Noura memeluk Maria dengan tersedu-sedu. Maria
memperlakukan Noura seolah adiknya sendiri. Sambil memeluk Noura Maria
menengok ke arahku. Aku menganggukkan kepala. Kulihat jam dinding, pukul


dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap. Mereka kekenyangan
makan. Maria masih memeluk Noura. Cukup lama mereka berpelukan. Maria
melepaskan pelukannya. Tangan kanannya memenjet handphone-nya dan
meletakkan di telingannya.

Handphoneku menjerit. Maria bertanya,

“Sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Tidak bisakah kau ajak dia ke kamarmu?”

“Aku kuatir Bahadur tahu.”

“Aku yakin dia sudah terlelap. Dan biasanya akan bangun sekitar jam
sepuluh pagi. Dia pekerja malam. Tadi jam setengah dua baru pulang terus
membuat keributan.”

“Baiklah akan kucoba.”

“Tunggu! Sekalian kau bujuk Noura menceritakan apa yang sebenarnya
dialaminya selama ini, agar kita semua para tetangga yang peduli pada nasibnya
bisa menolongnya dengan bijaksana.”

“Akan kucoba.”

Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui handphone. Tapi dia
harus bersuara sedikit keras, dan itu akan mengganggu tetangga yang tidur. Maria
memang tidak seperti Mona dan Suzana, dua kakak perempuan Noura yang genit
dan keras bicaranya. Seringkali Mona atau Suzana memanggil orang di rumah
mereka dari bawah dengan suara keras. Tidak siang tidak malam. Padahal rumah
mereka hanya di lantai dua tapi suaranya seperti memanggil orang di lantai tujuh.

Kulihat Maria berhasil membujuk Noura untuk ikut dengannya dan
berjalan memasuki gerbang apartemen. Hatiku sedikit lega. Masih ada waktu satu
jam setengah sampai subuh tiba. Kupasang beker. Aku ingin melelapkan mata
sebentar saja.

* * *




53 Roti Isy dan Ful adalah makanan pokok orang Mesir.